Tentang Si Tua Paul.
“Om, Paul mati!!” Teriak bocah kecil itu sambil menahan nafasnya yang tersengal. Kemudian dia menarik tanganku yang sedang memegang remote televisi. Aku beranjak dari ruang tengah menuju ruang depan. Kamarku.
Aku melihatnya tergeletak di atas keset di depan pintu kamarku.
“Enggak Putri, Si Paul gak mati”
“Cuma tidur”
Aku memperhatikan kucing berwarna putih itu. Wajar jika bocah ini mengira kalau kucing itu mati. Sepertinya memang dia sedang menunggu “waktunya”. Jika diperhatikan perut kucing itu masih bergerak, walau hanya sedikit, menandakan ia masih hidup.
Bocah itu duduk di depan muka si Paul. Ia membawa sebuah ranting yang entah ia dapat dari mana.
“Udah Putri jangan diganggu, biarin Si Paul tidur”
Paul, aku lupa bagaimana kucing itu mendapatkan namanya seperti itu, dan memang kami selalu asal dalam memberikan nama hewan peliharaan.
Ia datang begitu saja di rumah ini. Tidak ada yang membelinya apalagi memungutnya. Hal ini seperti sudah menjadi satu hal yang biasa di keluarga kami. Setiap kami memiliki rumah, pasti akan ada seekor kucing yang tiba-tiba saja dengan percaya diri datang tanpa diundang dan kemudian menjadikannya rumah kami sebagai kerajaannya. Tanpa takut mengelus-eluskan tubuhnya yang lembut ke kaki para penghuni rumah ini agar mendapatkan paling tidak sisa makanan, seperti sedang melacur.
Ada tiga hal yang membuat Paul bisa diterima di rumah ini. Pertama matanya cukup membuat orang rumah terpukau. Ia memiliki warna yang berbeda. Kanan biru, kiri kuning yang membuat ia terlihat tidak ‘kampung’. Kedua, ia putih dan bersih ketika kami temukan sedang duduk di salah satu sudut rumah. Awalnya kami mengira itu kucing mahal yang manja punya tetangga sebelah, namun ketika suatu pagi ia dating dari atas dengan membawa seekor tikus dimulutnya, kami sepakat untuk memeliharanya. Dan sampai detik ini tidak ada seorangpun yang memasang iklan pencarian kucing hilang.
Ketiga, dan ini hal yang paling krusial. Ekornya tidak panjang. Dan, sampai saat ini aku tidak pernah tahu kenapa alasannya Ayahku senang dengan kucing ekor pendek. Dan ketika bocah-bocah—keponakanku—memungut anak kucing dengan ekor yang panjang, Ayahku selalu menyuruh mereka membawa kucing-kucing itu pergi.
Dan, aku terlalu malas untuk bertanya padanya.
“Om, Paul bangun!” Bocah itu langsung memeluk kucing tua itu. Suatu hari aku sempat penasaran dan seandainya ia bisa berbicara, aku ingin tahu apa yang dirasakannya ketika bocah-bocah itu bermain dengannya. Ketika bocah itu memeluknya, apakah ia merasa senang atau tersiksa. Sebab, bocah tomboy ini memeluknya sangat erat. Dan aku tahu jawabannya, sebab ketika bocah itu melepaskan pelukannya, segera Paul bergerak menjauh darinya.
“Putri, jangan ganggu Paul, kasian dia mau istirahat”
Bocah itu hanya tersenyum menatapku sambil mengendurkan pelukannya.
“Eh, Putri jagain si Paul sebentar”
Aku masuk ke kamar kemudian keluar dengan membawa sebua kamera.
“Ayo Putri juga difoto sini”
Paul sudah tua. Terlihat sekali dari keadaan tubuhnya.
Dia datang ke rumah ini belum lama setelah ayah membeli rumah ini. Masa-masa saat dia masih sangat bersemangat. Dan bocah-bocah ini belum lahir.
Bayangkan saja saat ini keponakanku yang paling tua sekarang bersekolah di sekolah dasar kelas enam. Jadi kalian bisa mengira-ngira berapa umur si Paul.
Aku menatapnya dengan nanar. Dan ia seperti mengerti apa yang kulakukan, ia mengeong pelan.
Saat ini adalah hari-hari ia beristirahat. Sekali-kali juga ia berkelahi, kalah kemudian tertidur di depan pintu kamarku dengan luka yang tak seberapa.
“Ternyata kau pun setia berada disini” pikirku. Sama seperti Paijo dan Parjo, dua kucingku yang hidup di rumahku di Jakarta. Parjo adalah ibu dari Paijo. Mereka hidup dan tinggal sampai menghembuskan akhir nafasnya di rumah itu.
“Yah, entah kapan kamu akan pergi, Paul.”
Mungkin tidak akan ada yang sedih ketika dia akhirnya pergi. Hanya akan ada penghormatan untukmu karena sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidup kami di rumah ini.
Mungkin.
- - -
Hari sudah beranjak sore. Angin meniup bulu putihnya yang halus.
Bocah itu sudah main entah kemana, dan di Paul kembali tertidur.
我爱你
“Anak laki laki memakai jaket merah itu?”
“Ya, dia baru saja menangis”
“Tapi dia tampak tidak menangis”
“Aku melihatnya menangis, tapi ia memang pandai menyembunyikan wajahnya”
“Kau lihat matanya baik baik”
“Hm…laki-laki yang kuat”
“Sebenarnya dia rapuh, tapi hidup yang mengajarinya”
“…”
Next Issue
Vol. 14 | Fake
“mungkin sama dengan yang dirasakan oleh banyak orang, bahwa manusia semakin dihadapkan oleh segala sesuatu yang muncul dengan wujud serupa dengan dirinya, atau bersembunyi dibalik sebuah tubuh yang bisa meyakinkan pada orang lain.
Hal itu kemudian menjadi sebuah keberadaan yang dimaklumi, lalu semakin membingungkan sebab sudah tak mudah lagi untuk membedakannya.
benar begitu? ceritakan ceritamu”
——
Respon tema menjadi sebuah karya visual (fotografi, ilustrasi, drawing, videoart, komik, new media, kolase,dsb) atau aksara (cerpen, puisi) dengan melampirkan sebuah cerita dibalik karyamu (bukan deskripsi)
Karya visual minimal 5 karya. (BW)
Karya aksara : cerpen (min. 1200 kata), puisi (5 puisi)
kirim karya ke: fur.magazine@yahoo.com
dengan format subject:
Nama_Judul karya_Tema_Media karya
misal : Rebecca Kezia _ Jatuh _ Fake _ Cerpen
Deadline: 15 September 2011
info: fur.magazine@yahoo.com
Influence: Thom Yorke
Drawing on Paper - DIgital
2011
available on T SHirt. (coming soon)
It’s not small amount people who loves Radiohead in Indonesia, especially in Jogjakarta. We realize how brilliant Edward Thomas Yorke, Jonny Greenwood, Colin Greenwood, Ed O’brien dan Phil Selway for their music mind until the issues that they convey it with their creativity called music. It’s not a weird thing that they really affect bands or even personal in Indonesia. Few years ago there’s a rumor said Radiohead will be play in Indonesia, but in fact, it’s only an issue and made us dissapointed.
In between the anxiety when they willing play in Indonesia, an idea came up which actually ever happen in other place like Jakarta and Bandung, even in Jogjakarta, there’s a same event ever happen too.
So on, this event made by our hope, love, hoping of their spirit and also an appreciation for each individual who comes to this event.
This event invite designers, artist, and musician to work, do experiments, and respond to everything about radiohead. They interpreted it with their works which will be shown in this event
OPENING:
July, 28th 2011,
6.30PM
at WAJAH Cafe, Yogyakarta
Indonesia
ARTIST:
JOGJAKARTA || Roby Dwi Antono | Zendy Aji Sukma | Tampan Destawan S | Anggito Rahman | Nicodemus Freddy Hadiyanto | Mario Marthin | Edwin Prasetya | Hafiedz | Erin Citra | Benu Dharmo feat. Rizal Alam
SOLO || Isa Panic Monsta | Onny Renantalice
JAKARTA || Prasajadi Heru | Inez Tiara | Toro Elmar | Fadhly Muhammad | Idham Rahmanarto | Agatha Vania Karina | Cathy Arnold | Dwi Asrul | Ivan Jasadipura
BANDUNG || Amanda Mitsuri | Etza Meisyara | Rega Ayundya Putri | Kara Andarini | Claudia Dian | Dinan Hadyan
MALANG || Chyntia Puspitasari | Ayu Fajar
SURABAYA || Bagus Prio | Aghastyo Ghalis | Rakhmad Dwi Septian
AUSTRALIA || Lina Zainal
SINGAPORE || Ella Wijt | Debra Raymond | Nhawfal Juma’at
Written by: Terra Bajraghosa
PERFORMANCE by:
Skandal
X//Y
Suddenly Sunday
Bangsa Emas
Damien & Rosemarry
Belkastrelka
Etza Meisyara (Bandung)
Jack Forest
Support by:
Fur Magazine
Red and White Magazine
Deathrockstar.info
LOCATION:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1480011817882&set=o.216064041773039&type=1&ref=nf